Partikel dalam ilmu alam seperti fisika digunakan untuk menyebut sebuah satuan dasar dari benda atau energi, sedangkan dalam kimia dikenal istilah 'koloid' atau partikel koloid untuk menunjuk pada "fase" yaitu fase koloid dimana dalam fase ini tidak dapat terjadi pengendapan, koloid tidak terpengaruh oleh gaya apapun, termasuk gaya gravitasi.
Dalam berbahasa, dikenal istilah partikel gramatikal, sebuah partikel adalah sejenis kata yang tidak dikelompokkan ke dalam kelas kata gramatikal infleksi (seperti nomina, pronomina, verba, atau artikel). Partikel merupakan istilah untuk menaungi satu kelompok kata yang heterogen yang tidak memiliki definisi leksikal yang tepat. (wikipedia).
Dan dalam ekologi dikenal sebagai objek kecil bukan dari jenis "non biologis"... saya tidak tahu apakah partikel juga terdiri atas bentuk-bentuk terkecil atau yang lebih kecil lagi atau bagaimana? Saya hanya akan menggunakan istilah ini untuk mencoba menggambarkan susunan revolusi sosial.
Revolusi sebagai sebuah ledakan dahsyat yang "menjebol dan memperbaiki" bukanlah suatu aksi yang mandiri, dia dibangun atas susunan partikel-partikel yang (untuk beberapa ahli) dikatakan sebagai prasyarat, yaitu prasyarat revolusi. Partikel-partikel tersebut berwujud organisasi-organisasi massa dan aksi massa, Rossa Luxemburg menggambarkan aksi massa ini sebagai pemogokkan massa.
Bukan pemogokkan massa yang dilakukan oleh kaum anarkis yang berpandangan bahwa revolusi bisa dilakukan dengan senjata, yang seringnya membawa 'chaos' dan 'riot' dalam aksinya. Atau sebagaimana umumnya pandangan masyarakat kelas menengah yang berpakaian necis bahwa perubahan bisa dilakukan dengan "mendudukkan serigala dan domba dalam satu meja".
Permasalahan utamanya adalah tidak mungkin borjuis membiarkan proletar memiliki modal yang mapan, baik modal 'rupiah' maupun 'pendidikan' untuk proletar harus seminim mungkin. Sebenarnya saya ndak perlu membicarakan pertentangan kelas borjuis versus proletar ini, sebab semuanya sudah ditulis begitu lengkap dan gemilang oleh para pemikir-pemikir kita.
Disinilah ironinya, disatu sisi para pemikir yang populis menebarkan tulisan-tulisannya dalam bentuk buku dan artikel yang jumlahnya mungkin sudah lebih dari ribuan, termasuk juga dari para pemikir dalam negeri / anak bangsa sendiri, namun disisi lain yang lebih umum adalah pembodohan dan pengkerdilan (termasuk didalamnya adalah 'komersialisasi pendidikan') kita belum terlepas dari jebakan masyarakat berdasarkan kelas alias sama sekali belum merdeka.
Upaya yang dapat dilakukan adalah "menjebol dan memperbaiki"nya yaitu revolusi, tentu melalui tahapan-tahapan penting dalam membangun suatu ledakan yaitu menyusun partikel-partikelnya, terutama sekali membangun kesadaran berdaulat masyarakat.
Pramoedya Ananta Toer
Minggu, 18 Mei 2014
Minggu, 30 Maret 2014
Humanisme
Humanisme atawa kemanusiaan oleh Poespoprodjo dan K. Bertens
dikatakan sebagai dasarnya moral, dari rasa kemanusiaan inilah kualitas
moral diukur. Tentang bagaimana suatu perbuatan dapat dikatakan
manusiawi; sesuai dengan rasa kemanusiaan; atau sama sekali tidak
berkenaan dengan manusia, dan bagaimana suatu perbuatan menyalahi atau
tidak sesuai dengan rasa kemanusiaan. Seperti kasus pembunuhan antar
manusia, yang sudah pasti baik secara kemanusiaan adalah tidak tepat
alias menyalahi, baik membunuh manusia lain maupun kasus bunuh diri,
bukan tentang "gol bunuh diri" sebagaimana yang dilakukan oleh Terry
saat laga Crystal Palace (1) VS Chelsea (0) dimana tulisan ini mulai
saya pikirkan. Dan bukan semua ini yang sedang ingin saya tulis.
Yang ingin sekali saya tulis adalah sebuah pertanyaan "kemanusiaan atau humanisme yang seperti apa yang sesuai dengan Indonesia?" Jadi perlu juga untuk menarik perhatian lebih kebelakang, pada masa awal kemunculan 'humanisme' dan tidak mungkin untuk menulis sejarahnya secara panjang-lebar, cukuplah disadari bahwa kemunculan humanisme atau kemanusiaan ini sebenarnya muncul saat manusia itu ada. Tidak akan ada kemanusiaan tanpa ada manusianya, ya kan?
Sebagaimana yang pernah terjadi di Eropa saat berakhirnya jaman yang konon katanya "jaman kegelapan" atau sering dikenal dengan istilah 'aufklarung'~jaman kegelapan diganti dengan pencerahan oleh gerakan aufklarung, dari sini pula istilah 'humanisme' jadi populer. Aufklarung menempatkan akal-budi sebagai instrumen pengetahuan paling penting (rasional) membebaskan manusia dari doktrin-doktrin untuk memunculkan apa yang disebut eksistensi manusia. Waduh, kok malah melebar... intinya, pada masa ini pula pengetahuan mulai terpisah dari ikatan religi.
Lebih-lebih ketika muncul pernyataan dari seorang humanis yang revolusioner, Karl Marx. Marx dalam pernyataannya menempatkan agama sebagai penghambat kemanusiaan, tentunya dengan melihat kerangka cita-cita sosialismenya yaitu melenyapkan sekat-sekat kelas yang subordinatif, nah dalam persoalan ini Marx mengatakan bahwa "agama adalah candu" yang meninabobokkan manusia dari ketertindasannya.
Sebenarnya pernyataan Marx ini adalah bentuk kritik terhadap tesis Feuerbach yang menempatkan Tuhan sebagai proyeksi manusia yang berarti agama bagi Feurbach adalah keterasingan manusia. Bagi Marx, Feuerbach melewatkan satu persoalan "kenapa manusia mengasingkan diri kedalam agama?" Yang kemudian dijawab sekaligus dijelaskan sendiri oleh Marx: agama adalah pelarian dari realitas, sebab situasi masyarakatnya tidak mengijinkan manusia merealisasikan kemanusiaannya secara sungguh-sungguh, sederhananya: manusia tidak tidak dapat mengembangkan diri secara bebas akibat ditindas oleh sistem masyarakat, larilah dia ke agama dengan mengupayakan diri sebagai seorang 'petapa'. Dan kesimpulan dari Marx bahwa yang merusak kemanusiaan itu adalah apa yang disebut 'hak milik pribadi'
Atau mudahnya saya katakan saja kalau yang merusak kemanusiaan itu adalah 'kerakusan' manusia itu sendiri, beres. Perang, korupsi, manipulasi, pembunuhan, perampokan dan bentuk kejahatan dan kekerasan lainnya adalah berawal dari kerakusan.
Tentang "kemanusiaan yang bagaimana yang sesuai dengan Indonesia?" Tentunya adalah kemanusiaan yang sesuai dengan panca sila, yaitu kemanusiaan yang juga berkeTuhanan.
Perlu juga kiranya untuk kembali dipelajari mengenai aliran dalam ilmu kalam, dengan apa yang disebut dalam Islam "Qadariyah" dan "Jabariyah" yang pada dasarnya adalah berakar dari perbedaan pendapat dari kalangan ulama dalam memahami ayat-ayat Al Quran. Aliran Qadariyah adalah pendapat yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Sedangkan Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan kehendak dalam menentukan perbuatannya, saya tidak akan menulis tentang pertentangan dua aliran ini, saya hanya ingin cari-cari kemusiaan yang cocok buat Indonesia.
Sekali lagi kemanusiaan itu tidak boleh lepas dari religi alias manusia itu tidak mungkin terlepas dari pengawasan Tuhan, manusia itu otonom tapi dalam kebebasannya di dunia sebenarnya adalah upayanya dalam membangun kehidupannya yang abadi, yaitu janji Tuhan akan surga dan neraka.
Cukuplah kemanusiaan yang "bagaimana" itu adalah sebagaimana telah disebutkan dalam panca sila "kemanusiaan yang adil dan beradab" yaitu menyadari diri sebagai seorang manusia yang sekaligus menyadari hidup diantara manusia-manusia yang lain, bersikap adil yaitu sebagaimana pernyataan Pramoedya Ananta Toer "adillah sejak dari pikiran": jika kau merasa sakit saat dipukul maka jangan memukul atau janganlah menyakiti manusia yang lain untuk mencapai kemanusiaan yang beradab, yaitu manusia yang menyadari kemanusiaannya; berkembang dan tetap berTuhan.
Yang ingin sekali saya tulis adalah sebuah pertanyaan "kemanusiaan atau humanisme yang seperti apa yang sesuai dengan Indonesia?" Jadi perlu juga untuk menarik perhatian lebih kebelakang, pada masa awal kemunculan 'humanisme' dan tidak mungkin untuk menulis sejarahnya secara panjang-lebar, cukuplah disadari bahwa kemunculan humanisme atau kemanusiaan ini sebenarnya muncul saat manusia itu ada. Tidak akan ada kemanusiaan tanpa ada manusianya, ya kan?
Sebagaimana yang pernah terjadi di Eropa saat berakhirnya jaman yang konon katanya "jaman kegelapan" atau sering dikenal dengan istilah 'aufklarung'~jaman kegelapan diganti dengan pencerahan oleh gerakan aufklarung, dari sini pula istilah 'humanisme' jadi populer. Aufklarung menempatkan akal-budi sebagai instrumen pengetahuan paling penting (rasional) membebaskan manusia dari doktrin-doktrin untuk memunculkan apa yang disebut eksistensi manusia. Waduh, kok malah melebar... intinya, pada masa ini pula pengetahuan mulai terpisah dari ikatan religi.
Lebih-lebih ketika muncul pernyataan dari seorang humanis yang revolusioner, Karl Marx. Marx dalam pernyataannya menempatkan agama sebagai penghambat kemanusiaan, tentunya dengan melihat kerangka cita-cita sosialismenya yaitu melenyapkan sekat-sekat kelas yang subordinatif, nah dalam persoalan ini Marx mengatakan bahwa "agama adalah candu" yang meninabobokkan manusia dari ketertindasannya.
Sebenarnya pernyataan Marx ini adalah bentuk kritik terhadap tesis Feuerbach yang menempatkan Tuhan sebagai proyeksi manusia yang berarti agama bagi Feurbach adalah keterasingan manusia. Bagi Marx, Feuerbach melewatkan satu persoalan "kenapa manusia mengasingkan diri kedalam agama?" Yang kemudian dijawab sekaligus dijelaskan sendiri oleh Marx: agama adalah pelarian dari realitas, sebab situasi masyarakatnya tidak mengijinkan manusia merealisasikan kemanusiaannya secara sungguh-sungguh, sederhananya: manusia tidak tidak dapat mengembangkan diri secara bebas akibat ditindas oleh sistem masyarakat, larilah dia ke agama dengan mengupayakan diri sebagai seorang 'petapa'. Dan kesimpulan dari Marx bahwa yang merusak kemanusiaan itu adalah apa yang disebut 'hak milik pribadi'
Atau mudahnya saya katakan saja kalau yang merusak kemanusiaan itu adalah 'kerakusan' manusia itu sendiri, beres. Perang, korupsi, manipulasi, pembunuhan, perampokan dan bentuk kejahatan dan kekerasan lainnya adalah berawal dari kerakusan.
Tentang "kemanusiaan yang bagaimana yang sesuai dengan Indonesia?" Tentunya adalah kemanusiaan yang sesuai dengan panca sila, yaitu kemanusiaan yang juga berkeTuhanan.
Perlu juga kiranya untuk kembali dipelajari mengenai aliran dalam ilmu kalam, dengan apa yang disebut dalam Islam "Qadariyah" dan "Jabariyah" yang pada dasarnya adalah berakar dari perbedaan pendapat dari kalangan ulama dalam memahami ayat-ayat Al Quran. Aliran Qadariyah adalah pendapat yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Sedangkan Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan kehendak dalam menentukan perbuatannya, saya tidak akan menulis tentang pertentangan dua aliran ini, saya hanya ingin cari-cari kemusiaan yang cocok buat Indonesia.
Sekali lagi kemanusiaan itu tidak boleh lepas dari religi alias manusia itu tidak mungkin terlepas dari pengawasan Tuhan, manusia itu otonom tapi dalam kebebasannya di dunia sebenarnya adalah upayanya dalam membangun kehidupannya yang abadi, yaitu janji Tuhan akan surga dan neraka.
Cukuplah kemanusiaan yang "bagaimana" itu adalah sebagaimana telah disebutkan dalam panca sila "kemanusiaan yang adil dan beradab" yaitu menyadari diri sebagai seorang manusia yang sekaligus menyadari hidup diantara manusia-manusia yang lain, bersikap adil yaitu sebagaimana pernyataan Pramoedya Ananta Toer "adillah sejak dari pikiran": jika kau merasa sakit saat dipukul maka jangan memukul atau janganlah menyakiti manusia yang lain untuk mencapai kemanusiaan yang beradab, yaitu manusia yang menyadari kemanusiaannya; berkembang dan tetap berTuhan.
Kamis, 06 Februari 2014
Disiplin sebagai keterampilan sosial
Kedisiplinan, tema penting yang terus dibicarakan berulang-ulang, seakan tidak menemukan rumusan terbaik untuk menjawab segenap persoalan terkait kedisiplinan. Ini merupakan modal penting, kedisiplinan adalah modal sosial dan dari kedisiplinanlah masyarakat dapat menempatkan kepercayaan.
Menemui seorang pedagang yang tidak disiplin, dimana ia seringkali menipu para pembelinya adalah hal yang tidak menyenangkan, pedagang apapun, dan kali ini saya temui seorang pedagang batu yang entah mengapa ia menjamin "keaslian" pada potongan kaca yang dipoles menyerupai batu amatis. Pun sering juga menemui perilaku sejenis dalam situasi jual-beli dalam bentuk apapun.
ketidak pedulian terhadap lingkungan sosial, atau bahkan kekebalan terhadap sanksi sosial adalah bentuk hilangnya tanggung jawab. Saya teringat film Tarzan, seorang manusia yang terbuang dari peradaban, bertahan seorang diri ditengah hutan belantara. Dalam kisahnya, Tarzan mampu beradaptasi tanpa merusak lingkungannya, dari sini saya berpikir bahwa Tarzan ini mampu beradaptasi dengan memberi batasan terhadap dirinya sendiri, mau dan mampu mengatur dirinya sendiri. Apa jadinya jika Tarzan tidak mau mengatur dirinya sendiri, serakah sebagaimana umumnya manusia saat ini? Mungkin saja ia akan makan gajah, singa, gorila dan dia bantai monyet lalu membakar hutan. Rusak sudah lingkungan.
Sama seperti seorang siswa/pelajar, dikemudian hari ia akan kembali kepada masyarakat, hidup dilingkungan masyarakat, pertanyaannya kemudian mampukah ia beradaptasi dengan lingkungan? Jika tidak, maka sebagaimana Tarzan apabila tidak mau dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan, jadilah dia perusak lingkungan sosial. Dari narkoba, prostitusi hingga perilaku anti sosial lainnya.
Kesemuanya itu terkait dengan kemauan dan kemampuan untuk mengendalikan diri, mendisiplinkan diri tentunya. Tentu juga perlu untuk dilatih, dibiasakan.
Tingginya nilai akademik tidak akan bermanfaat tanpa diimbangi dengan kedisiplinan (kemauan dan kemampuan untuk mengendalikan diri) sebab inilah keterampilan sosial, dalam kehidupan bermasyarakat sangat dibutuhkan keterampilan sosial daripada angka-angka yang mentereng didalam buku rapor.
Sebagaimana saya katakan kepada para pelajar SMP tiap kali mengawali pertemuan "melatih kedisiplinan itu sebenarnya mudah, kedisiplinan itu terkait dengan meletakkan atau menempatkan segala sesuatunya, termasuk menempatkan diri sendiri dengan tepat dan benar"
Kemudian saya lakukan simulasi dengan menggunakan dasi/topi, meletakkan topi/dasi disaku adalah tidak tepat dan tidak benar, kemudian meletakkan dasi/topi dipundak juga tidak tepat dan tidak benar. mengikatkan dasi dikepala sungguh sangat keterlaluan. Dasi letaknya dileher tapi belum tentu benar sebagaimana topi yang letaknya dikepala, jika topi diletakkan dikepala tapi dengan posisi miring atau terbalik adalah belum benar, maka moncong topi harus berada mengarah kedepan, itu baru tepat dan benar.
Nah, bagaimana dengan menempatkan diri dengan tepat dan benar, mudah tapi butuh kesadaran diri yang cukup tinggi, berangkat sekolah dan berseragam tapi duduk diwarung kopi atau warung internet adalah tidak tepat dan tidak benar, berseragam lalu masuk kesekolah tapi nongkrong di kantin pas jam pelajaran adalah belum benar. Jadi tepat dan benar jika pelajar berseragam ada di kelas mengikuti pelajaran pas jam pelajaran.
Gurunya pun juga kudu begitu, bukannya nongkrong-ngobrol sekedar menambah durasi jam kosong yang sebenarnya memberi peluang bagi pelajar untuk mengembangkan sikap anti sosialnya, sebab pelajar ini juga punya tipikal untuk selalu bereksperimen, kenakalan-kenakalan dari yang wajar hingga yang kurang ajar seringkali diawali dari obrolan senggang sekedar untuk mengisi waktu luang. Bukankah pelajar juga lebih suka memperhatikan daripada menghafal? Maka guru jangan sampai anti sosial.
Ya ini tulisan hanya sekedar tulisan, niat hati ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan, bila bermanfaat atau bahkan solusi dalam memecah kebuntuan ya saya sangat bersyukur, jikapun malah bikin marah atau dongkol orang ya saya mohonkan maaf, toh semua ini hanyalah untuk menemukan Indonesia... Indonesia yang sedang kita cari... salam merdeka.
Menemui seorang pedagang yang tidak disiplin, dimana ia seringkali menipu para pembelinya adalah hal yang tidak menyenangkan, pedagang apapun, dan kali ini saya temui seorang pedagang batu yang entah mengapa ia menjamin "keaslian" pada potongan kaca yang dipoles menyerupai batu amatis. Pun sering juga menemui perilaku sejenis dalam situasi jual-beli dalam bentuk apapun.
ketidak pedulian terhadap lingkungan sosial, atau bahkan kekebalan terhadap sanksi sosial adalah bentuk hilangnya tanggung jawab. Saya teringat film Tarzan, seorang manusia yang terbuang dari peradaban, bertahan seorang diri ditengah hutan belantara. Dalam kisahnya, Tarzan mampu beradaptasi tanpa merusak lingkungannya, dari sini saya berpikir bahwa Tarzan ini mampu beradaptasi dengan memberi batasan terhadap dirinya sendiri, mau dan mampu mengatur dirinya sendiri. Apa jadinya jika Tarzan tidak mau mengatur dirinya sendiri, serakah sebagaimana umumnya manusia saat ini? Mungkin saja ia akan makan gajah, singa, gorila dan dia bantai monyet lalu membakar hutan. Rusak sudah lingkungan.
Sama seperti seorang siswa/pelajar, dikemudian hari ia akan kembali kepada masyarakat, hidup dilingkungan masyarakat, pertanyaannya kemudian mampukah ia beradaptasi dengan lingkungan? Jika tidak, maka sebagaimana Tarzan apabila tidak mau dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan, jadilah dia perusak lingkungan sosial. Dari narkoba, prostitusi hingga perilaku anti sosial lainnya.
Kesemuanya itu terkait dengan kemauan dan kemampuan untuk mengendalikan diri, mendisiplinkan diri tentunya. Tentu juga perlu untuk dilatih, dibiasakan.
Tingginya nilai akademik tidak akan bermanfaat tanpa diimbangi dengan kedisiplinan (kemauan dan kemampuan untuk mengendalikan diri) sebab inilah keterampilan sosial, dalam kehidupan bermasyarakat sangat dibutuhkan keterampilan sosial daripada angka-angka yang mentereng didalam buku rapor.
Sebagaimana saya katakan kepada para pelajar SMP tiap kali mengawali pertemuan "melatih kedisiplinan itu sebenarnya mudah, kedisiplinan itu terkait dengan meletakkan atau menempatkan segala sesuatunya, termasuk menempatkan diri sendiri dengan tepat dan benar"
Kemudian saya lakukan simulasi dengan menggunakan dasi/topi, meletakkan topi/dasi disaku adalah tidak tepat dan tidak benar, kemudian meletakkan dasi/topi dipundak juga tidak tepat dan tidak benar. mengikatkan dasi dikepala sungguh sangat keterlaluan. Dasi letaknya dileher tapi belum tentu benar sebagaimana topi yang letaknya dikepala, jika topi diletakkan dikepala tapi dengan posisi miring atau terbalik adalah belum benar, maka moncong topi harus berada mengarah kedepan, itu baru tepat dan benar.
Nah, bagaimana dengan menempatkan diri dengan tepat dan benar, mudah tapi butuh kesadaran diri yang cukup tinggi, berangkat sekolah dan berseragam tapi duduk diwarung kopi atau warung internet adalah tidak tepat dan tidak benar, berseragam lalu masuk kesekolah tapi nongkrong di kantin pas jam pelajaran adalah belum benar. Jadi tepat dan benar jika pelajar berseragam ada di kelas mengikuti pelajaran pas jam pelajaran.
Gurunya pun juga kudu begitu, bukannya nongkrong-ngobrol sekedar menambah durasi jam kosong yang sebenarnya memberi peluang bagi pelajar untuk mengembangkan sikap anti sosialnya, sebab pelajar ini juga punya tipikal untuk selalu bereksperimen, kenakalan-kenakalan dari yang wajar hingga yang kurang ajar seringkali diawali dari obrolan senggang sekedar untuk mengisi waktu luang. Bukankah pelajar juga lebih suka memperhatikan daripada menghafal? Maka guru jangan sampai anti sosial.
Ya ini tulisan hanya sekedar tulisan, niat hati ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan, bila bermanfaat atau bahkan solusi dalam memecah kebuntuan ya saya sangat bersyukur, jikapun malah bikin marah atau dongkol orang ya saya mohonkan maaf, toh semua ini hanyalah untuk menemukan Indonesia... Indonesia yang sedang kita cari... salam merdeka.
Sabtu, 17 Agustus 2013
Tari; tradisional dan modern
Ada seorang guru ngomong ke muridnya "untuk belajar 'dance' harus belajar tari tradisional dulu", demikian dalam debat kecil pada sebuah kelas. Hal ini saya dapati dari cerita beberapa pelajar yang sedang berkesempatan memasang wajah jengah.
Saya tidak begitu mengerti jalan pikir dari guru yang dimaksud, yang tentunya telah mendapat 'protes diam' dari para muridnya akibat pendapatnya tersebut, bukankah generasi saat ini lebih radikal dalam berpikir? Mungkin demikian jika dibandingkan dengan kepicikkan seorang guru yang menyatakan "untuk belajar dance (dalam hal ini yang dimaksud adalah modern dance) harus belajar tari tradisional dulu", cukup bernuansa doktrinasi kalau saya bilang. Jadi ingat masa ORBA.
Bagaimana mungkin mengangkat kebudayaan sendiri untuk dapat sejajar dengan budaya asing tetapi memperlakukan budaya sendiri sebagai budaya rendah? Kebudayaan sendiri disini diwakili oleh "tari tradisional" dan budaya asing yang beragam kali ini diwakili oleh "modern dance" dalam berbagai bentuk yang pada dasarnya lebih sering datang dari luar kebudayaan sendiri.
Kembali pada perbandingan antara tradisional dan modern, pendeknya belum tentu yang datang dari luar kebudayaan kita adalah lebih modern dari budaya kita, dianggap modern disini malah tradisional di tempat asalnya. Sedangkan kita masih keseringan menganggap yang tradisional adalah hasil budaya yang rendah sebagaimana pola pikir seorang guru diatas.
Alangkah berbahayanya pola pikir seperti itu, terlebih ketika pola pikir sedemikian itu tersalur dalam ucapan seorang guru kepada murid-muridnya, sama halnya mengatakan "kita sebagai bangsa yang tidak beradab, marilah menghamba kepada bangsa lain yang lebih gemerlap" tanpa ada upaya untuk memodernkan hasil budaya sendiri, jadilah kita benar-benar menghamba kepada sesama manusia dari bangsa lain. Untuk lebih jelas dalam masalah perbandingan antara modern dan tradisional, silahkan baca tulisan saya sebelumnya "klik link".
Dan lagi tidaklah mungkin para penyanyi Korea dengan tampilan khas "modern dance" nya itu terlebih dulu belajar tari tradisional dari bangsa Indonesia untuk melakukan performa "modern dance" yang tiba-tiba jadi kiblat budaya bagi kebanyakan muda-mudi di Indonesia. Sungguh, kekacauan sedang terjadi dalam otak anda jika anda berpikir seperti itu. Lebih baik mulai suatu analisa kecil tentang koreografi dan iringan musik untuk memodernkan budaya sendiri, misalnya tari Bali diiring musik rock atau jaipong dengan irama jazz. Jazz dan rock adalah tradisi asing yang mendunia yang sementara sedang dibilang "MODERN" daripada jaipong, atau lain waktu kita bisa pikirkan sama-sama tentang kuda lumping yang disemarakkan dengan riuhnya irama trash metal.
Saya tidak begitu mengerti jalan pikir dari guru yang dimaksud, yang tentunya telah mendapat 'protes diam' dari para muridnya akibat pendapatnya tersebut, bukankah generasi saat ini lebih radikal dalam berpikir? Mungkin demikian jika dibandingkan dengan kepicikkan seorang guru yang menyatakan "untuk belajar dance (dalam hal ini yang dimaksud adalah modern dance) harus belajar tari tradisional dulu", cukup bernuansa doktrinasi kalau saya bilang. Jadi ingat masa ORBA.
Bagaimana mungkin mengangkat kebudayaan sendiri untuk dapat sejajar dengan budaya asing tetapi memperlakukan budaya sendiri sebagai budaya rendah? Kebudayaan sendiri disini diwakili oleh "tari tradisional" dan budaya asing yang beragam kali ini diwakili oleh "modern dance" dalam berbagai bentuk yang pada dasarnya lebih sering datang dari luar kebudayaan sendiri.
Kembali pada perbandingan antara tradisional dan modern, pendeknya belum tentu yang datang dari luar kebudayaan kita adalah lebih modern dari budaya kita, dianggap modern disini malah tradisional di tempat asalnya. Sedangkan kita masih keseringan menganggap yang tradisional adalah hasil budaya yang rendah sebagaimana pola pikir seorang guru diatas.
Alangkah berbahayanya pola pikir seperti itu, terlebih ketika pola pikir sedemikian itu tersalur dalam ucapan seorang guru kepada murid-muridnya, sama halnya mengatakan "kita sebagai bangsa yang tidak beradab, marilah menghamba kepada bangsa lain yang lebih gemerlap" tanpa ada upaya untuk memodernkan hasil budaya sendiri, jadilah kita benar-benar menghamba kepada sesama manusia dari bangsa lain. Untuk lebih jelas dalam masalah perbandingan antara modern dan tradisional, silahkan baca tulisan saya sebelumnya "klik link".
Dan lagi tidaklah mungkin para penyanyi Korea dengan tampilan khas "modern dance" nya itu terlebih dulu belajar tari tradisional dari bangsa Indonesia untuk melakukan performa "modern dance" yang tiba-tiba jadi kiblat budaya bagi kebanyakan muda-mudi di Indonesia. Sungguh, kekacauan sedang terjadi dalam otak anda jika anda berpikir seperti itu. Lebih baik mulai suatu analisa kecil tentang koreografi dan iringan musik untuk memodernkan budaya sendiri, misalnya tari Bali diiring musik rock atau jaipong dengan irama jazz. Jazz dan rock adalah tradisi asing yang mendunia yang sementara sedang dibilang "MODERN" daripada jaipong, atau lain waktu kita bisa pikirkan sama-sama tentang kuda lumping yang disemarakkan dengan riuhnya irama trash metal.
Kamis, 15 Agustus 2013
Revolusi: Tobat Nasional
Bukan menjadi sebuah rencana ketika saya ditawari untuk ikut berpuasa pada tanggal 17 Agustus 2013 nanti, salah seorang crew GSP adalah seorang warga dari Tarekat Shiddiqiyyah Jombang, ketika berkumpul pas lebaran kemarin dia menyodorkan foto kopian surat edaran dari pondoknya yang berisi ajakan untuk melakukan puasa dan berdzikir pada tanggal 17 nanti. Jadilah pada hari sabtu nanti beberapa crew GSP akan melakukan puasa dan mengadakan semacam majelis dzikir.
Tidak terdapat hal-perihal yang salah atau bahkan buruk dengan dianggap sesat dalam ajakan itu, sebaliknya malah hal seperti inilah yang harus dilakukan oleh seluruh bangsa Indonesia, mensyukuri nikmat kemerdekaan yang serta merta mendoakan keselamatan bangsa dan negara, inilah puncak dari wujud nasionalisme (sementara menurut saya).
Juga masih menurut saya pribadi hal demikian inilah yang harus dilaksanakan oleh bangsa yang besar yang cenderung bingung memilih arah meskipun sudah punya cita-cita, bahkan memunculkan gagasan dalam pikiran saya, yaitu "tobat nasional".
Bukannya sok benar atau bahkan sok suci, tapi kalau mau jujur yang terjadi dalam bangsa ini adalah beragam penyimpangan yang bahkan meninggalkan kemanusiaan. Tobat nasional perlu untuk bangsa ini, terutama sekali oleh pejabatnya, para politikus dan para abdi negaranya.
Tentang Pondok dari Tarekat Shiddiqiyyah yang berada di Ploso-Jombang sebelumnya sempat saya kunjungi bersama beberapa crew GSP ketika memperingati Isra Miraj, terdapat bagian-bagian dari pondok yang membuat saya terkesan lantaran semangat nasionalisme yang tinggi yang ditampilkan dalam bentuk monumen-monumen, waktu itu saya merasa cita-cita saya dalam menemukan Indonesia sudah saya wujudkan ditengah-tengah ribuan warga Tarekat Shiddiqiyyah yang hadir malam itu, namun ketika sudah kembali ke Malang perasaan semacam itu tiba-tiba saja hilang dengan gemerlap liberalisme yang dipertunjukkan disepanjang jalan bersama kehadiran borjuis-borjuis yang senantiasa mencari kesenangan berlebih.
Sekaligus juga waktu itu saya mengingat sejarah "Resolusi Jihad NU" yang pernah saya baca yang intinya membela dan mempertahankan negara adalah wajib hukumnya (saya beranikan diri menulis seperti itu meskipun saya tidak mengerti tentang dalil-dalilnya) dan slogan dari warga NU "untuk menjadi Islam 100% di negeri ini juga harus menjadi nasionalis 100%". Mantab tanpa ditawar lagi.
Tentunya dalam pikiran saya (sementara) saat ini adalah dimana ketika keberadaan suatu negara yang dapat menjamin proses ibadah adalah perlu untuk diperjuangkan-dipertahankan.
Mengenai "tobat nasional" tentu sudah cukup jelas, bagi masyarakat yang cenderung menyimpang dan selalu berharap akan adanya perubahan-perbaikan ini untuk melakukan suatu revolusi, suatu revolusi yang berangkat dari diri sendiri, dari masing-masing individu, merubah diri untuk mengadakan perbaikan hidup yaitu dengan bertobat.
Tidak terdapat hal-perihal yang salah atau bahkan buruk dengan dianggap sesat dalam ajakan itu, sebaliknya malah hal seperti inilah yang harus dilakukan oleh seluruh bangsa Indonesia, mensyukuri nikmat kemerdekaan yang serta merta mendoakan keselamatan bangsa dan negara, inilah puncak dari wujud nasionalisme (sementara menurut saya).
Juga masih menurut saya pribadi hal demikian inilah yang harus dilaksanakan oleh bangsa yang besar yang cenderung bingung memilih arah meskipun sudah punya cita-cita, bahkan memunculkan gagasan dalam pikiran saya, yaitu "tobat nasional".
Bukannya sok benar atau bahkan sok suci, tapi kalau mau jujur yang terjadi dalam bangsa ini adalah beragam penyimpangan yang bahkan meninggalkan kemanusiaan. Tobat nasional perlu untuk bangsa ini, terutama sekali oleh pejabatnya, para politikus dan para abdi negaranya.
Tentang Pondok dari Tarekat Shiddiqiyyah yang berada di Ploso-Jombang sebelumnya sempat saya kunjungi bersama beberapa crew GSP ketika memperingati Isra Miraj, terdapat bagian-bagian dari pondok yang membuat saya terkesan lantaran semangat nasionalisme yang tinggi yang ditampilkan dalam bentuk monumen-monumen, waktu itu saya merasa cita-cita saya dalam menemukan Indonesia sudah saya wujudkan ditengah-tengah ribuan warga Tarekat Shiddiqiyyah yang hadir malam itu, namun ketika sudah kembali ke Malang perasaan semacam itu tiba-tiba saja hilang dengan gemerlap liberalisme yang dipertunjukkan disepanjang jalan bersama kehadiran borjuis-borjuis yang senantiasa mencari kesenangan berlebih.
Sekaligus juga waktu itu saya mengingat sejarah "Resolusi Jihad NU" yang pernah saya baca yang intinya membela dan mempertahankan negara adalah wajib hukumnya (saya beranikan diri menulis seperti itu meskipun saya tidak mengerti tentang dalil-dalilnya) dan slogan dari warga NU "untuk menjadi Islam 100% di negeri ini juga harus menjadi nasionalis 100%". Mantab tanpa ditawar lagi.
Tentunya dalam pikiran saya (sementara) saat ini adalah dimana ketika keberadaan suatu negara yang dapat menjamin proses ibadah adalah perlu untuk diperjuangkan-dipertahankan.
Mengenai "tobat nasional" tentu sudah cukup jelas, bagi masyarakat yang cenderung menyimpang dan selalu berharap akan adanya perubahan-perbaikan ini untuk melakukan suatu revolusi, suatu revolusi yang berangkat dari diri sendiri, dari masing-masing individu, merubah diri untuk mengadakan perbaikan hidup yaitu dengan bertobat.
Selasa, 13 Agustus 2013
Membangun Kebangsaan
Menjadi suatu kerja besar, membangun kebangsaan bagi suatu masyarakat yang tersusun dari beragam latar belakang, suku, agama dan ras. Inilah Indonesia, dalam persatuannya adalah nasionalisme yang tidak sempit, ia harus memberi ruang penuh bagi segenap paham dan keyakinan didalamnya, meskipun memang sudah seharusnya seperti itu nasionalisme/kebangsaan yang ada.
Nasionalisme yang diinginkan bukanlah suatu nasionalisme yang menjadi rintangan bagi paham atau "isme-isme" yang lain, bahkan terhadap agama. Nasionalisme yang dalam bentuk dasarnya adalah kesadaran yang menyempit tentang suatu masyarakat atas suatu paham, keyakinan, suku dan ras tidaklah dapat diterima lagi. Nasionalisme yang hanya menjadi perintang seperti itu sama saja dengan pembatasan terhadap kemanusiaan, dan ketika nasionalisme tidak lagi sesuai dengan kemanusiaan maka akan memunculkan proses tindas-menindas antar manusia.
Sungguh, kita tidak mengiginkan nasionalisme yang sempit yang tidak ramah terhadap kemanusiaan, apalagi nasionalisme sempit yang mengenyahkan kemanusiaan. Pun tidak pula menjadi suatu harapan ketika nasionalisme yang ada malah mendasarkan diri pada liberalisme~mungkin akan terbaca aneh: nasionalisme-liberalistik, tapi inilah yang sering muncul kepermukaan disamping nasionalisme yang membatasi diri dalam suatu latar belakang- latar belakang masyarakatnya.
Indonesia, Amerika dan Australia adalah contoh terbaik untuk menggambarkan bagaimana suatu nasionalisme dibangun dari beragam latar belakang, tidak berdasarkan agama, suku, dan ras. Tapi tentunya tidak menjadi suatu keinginan untuk menjadikan Indonesia seperti Amerika yang liberalistis. Kita bisa katakan Indonesia adalah Indonesia dengan keragaman yang membuatnya kaya akan warna.
Lalu bagaimana membangun nasionalisme/kebangsaan di Indonesia yang memiliki keragaman jika tidak seperti Amerika dengan menyandarkan diri dengan liberalisme? Tentu bisa, hal demikian sudah terjawab cukup lama, bahkan sebelum negara diproklamasikan.
Pancasila, inilah bentuk nasionalisme yang ditawarkan, ia bukan suatu "isme" yang kaku, rigid. Pancasila memberi ruang yang cukup untuk segenap paham dan keyakinan dalam masyarakatnya, pun juga tidak memberikan kebebasan mutlak kepada masyarakatnya, kebebasan yang ada masihlah berjalan diatas rel revolusi untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang dicita-citakan, tentu suatu masyarakat yang berkeTuhanan Yang Maha Esa, suatu masyarakat yang berperikemanusiaan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang berkeadilan sosial.
Jadilah tugas maha berat bagi suatu bangsa untuk membangun peradaban yang gemilang, peradaban yang manusiawi sajalah yang dapat kita gunakan.
Bagaimana kesadaran seperti itu dapat diwujudkan? Pertanyaan inilah yang muncul, kita tidak perlu membicarakan wujud nasionalisme jika tidak terlebih dahulu membicarakan kesadarannya, tentu kesadaran berbangsa, kesadaran akan suatu nasionalisme yang berdiri-mewujud dari ladang sejarah suatu masyarakat.
Jauh didalam pancasila tersimpan bentuk nasionalisme yang diharapkan, hal ini sebagaimana pendapat Ir. Soekarno tentang sosio-nasionalisme, dimana nasionalisme ini tidak sama seperti nasionalisme bangsa-bangsa Eropa, suatu nasionalisme yang tidak hanya mencari "gebyar"nya saja atau suatu nasionalisme yang hanya muncul lantaran sepak bola saja. Tapi suatu nasionalisme yang mendasarkan diri pada kecintaan terhadap rakyat jelata, nasionalisme yang memperjuangkan nasib rakyat jelata atau suatu nasionalisme yang didalamnya mengupayakan perbaikan hidup bagi sesama.
Bung Karno mendefinisikan sosio-nasionalisme ini dengan massa-rakyat yakni nasionalisme yang mencari selamatnya massa-rakyat. Pun juga suatu nasionalisme yang menentang pembentukan masyarakat yang berdasarkan kelas sosial, dalam hal ini Bung Karno berpesan “dalam perjuangan habis-habisan mendatangkan Indonesia Merdeka, kaum Marhaen harus menjaga agar jangan sampai nanti mereka yang kena getahnya, tetapi kaum borjuis atau ningrat yang memakan nangkanya.”
Nasionalisme yang diinginkan bukanlah suatu nasionalisme yang menjadi rintangan bagi paham atau "isme-isme" yang lain, bahkan terhadap agama. Nasionalisme yang dalam bentuk dasarnya adalah kesadaran yang menyempit tentang suatu masyarakat atas suatu paham, keyakinan, suku dan ras tidaklah dapat diterima lagi. Nasionalisme yang hanya menjadi perintang seperti itu sama saja dengan pembatasan terhadap kemanusiaan, dan ketika nasionalisme tidak lagi sesuai dengan kemanusiaan maka akan memunculkan proses tindas-menindas antar manusia.
Sungguh, kita tidak mengiginkan nasionalisme yang sempit yang tidak ramah terhadap kemanusiaan, apalagi nasionalisme sempit yang mengenyahkan kemanusiaan. Pun tidak pula menjadi suatu harapan ketika nasionalisme yang ada malah mendasarkan diri pada liberalisme~mungkin akan terbaca aneh: nasionalisme-liberalistik, tapi inilah yang sering muncul kepermukaan disamping nasionalisme yang membatasi diri dalam suatu latar belakang- latar belakang masyarakatnya.
Indonesia, Amerika dan Australia adalah contoh terbaik untuk menggambarkan bagaimana suatu nasionalisme dibangun dari beragam latar belakang, tidak berdasarkan agama, suku, dan ras. Tapi tentunya tidak menjadi suatu keinginan untuk menjadikan Indonesia seperti Amerika yang liberalistis. Kita bisa katakan Indonesia adalah Indonesia dengan keragaman yang membuatnya kaya akan warna.
Lalu bagaimana membangun nasionalisme/kebangsaan di Indonesia yang memiliki keragaman jika tidak seperti Amerika dengan menyandarkan diri dengan liberalisme? Tentu bisa, hal demikian sudah terjawab cukup lama, bahkan sebelum negara diproklamasikan.
Pancasila, inilah bentuk nasionalisme yang ditawarkan, ia bukan suatu "isme" yang kaku, rigid. Pancasila memberi ruang yang cukup untuk segenap paham dan keyakinan dalam masyarakatnya, pun juga tidak memberikan kebebasan mutlak kepada masyarakatnya, kebebasan yang ada masihlah berjalan diatas rel revolusi untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang dicita-citakan, tentu suatu masyarakat yang berkeTuhanan Yang Maha Esa, suatu masyarakat yang berperikemanusiaan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang berkeadilan sosial.
Jadilah tugas maha berat bagi suatu bangsa untuk membangun peradaban yang gemilang, peradaban yang manusiawi sajalah yang dapat kita gunakan.
Bagaimana kesadaran seperti itu dapat diwujudkan? Pertanyaan inilah yang muncul, kita tidak perlu membicarakan wujud nasionalisme jika tidak terlebih dahulu membicarakan kesadarannya, tentu kesadaran berbangsa, kesadaran akan suatu nasionalisme yang berdiri-mewujud dari ladang sejarah suatu masyarakat.
Jauh didalam pancasila tersimpan bentuk nasionalisme yang diharapkan, hal ini sebagaimana pendapat Ir. Soekarno tentang sosio-nasionalisme, dimana nasionalisme ini tidak sama seperti nasionalisme bangsa-bangsa Eropa, suatu nasionalisme yang tidak hanya mencari "gebyar"nya saja atau suatu nasionalisme yang hanya muncul lantaran sepak bola saja. Tapi suatu nasionalisme yang mendasarkan diri pada kecintaan terhadap rakyat jelata, nasionalisme yang memperjuangkan nasib rakyat jelata atau suatu nasionalisme yang didalamnya mengupayakan perbaikan hidup bagi sesama.
Bung Karno mendefinisikan sosio-nasionalisme ini dengan massa-rakyat yakni nasionalisme yang mencari selamatnya massa-rakyat. Pun juga suatu nasionalisme yang menentang pembentukan masyarakat yang berdasarkan kelas sosial, dalam hal ini Bung Karno berpesan “dalam perjuangan habis-habisan mendatangkan Indonesia Merdeka, kaum Marhaen harus menjaga agar jangan sampai nanti mereka yang kena getahnya, tetapi kaum borjuis atau ningrat yang memakan nangkanya.”
Sabtu, 20 Juli 2013
Secarik kegelisahan
Saya sempatkan merenung ini tadi, ketika sedang khusuk ngopi dipinggir jalan. Tidak terawih, memanglah sudah jadi kebiasaan saya seperti ini. Sebetulnya dalam keadaan semacam ini saya harus menjauhi segala macam jejaring sosial, pikiran labil menebak apapun dari sudut pandang paling pesimis hingga terdengar narasi berulang-ulang "kemenangan bukan lagi milik yang benar, sebab keadilan tercipta oleh kekuasaan".
Istilah kekiniannya "galau", tentu, bagaimana tidak jika kerap kali mendapati penyimpangan yang terang-terangan dibela-diwajarkan. Cemburu? Memang, harus diakui itu. Tidak ada lagi yang dapat saya akui-saya rasai.
Ketimpangan-ketimpangan diharapkan ada-terdapat dan wajar, tentu untuk mempertahankan kemapanan kelas sosial. Kebenaran dan keadilan hanyalah pengganggu kemapanan. Tanpa daya perlawanan, sekedar penyaksian. Astaga.
Bagaimana mungkin kesadaran akan kenyataan sedemikian ini memaksa untuk bertahan dalam ketabahan? Dipaksa tunduk dalam ketertindasan, pengasingan. Sadar, perjuangan berujung pada kesia-siaan. Atau memang sedang "terhasut sepi?" Ini bukan tulisan yang serius, hanya menyempatkan diri mencatat sebentuk keadaan, dimana dan kapan aku kini berada, tentu dengan segenap penyaksian dan umpatan. Menyendiri tanpa pembelaan.
Sekali lagi "kemenangan bukan lagi milik yang benar, sebab keadilan adalah rekayasa kuasa" segala yang diwajarkan hanyalah upaya kekuasaan, penyimpangan dan penindasan jadi wajar hanya karena upaya kekuasaan.
Aku sedang berdiri, memandangi kenyataan yang berlangsung pada sebuah bangunan, institusi, tempat dimana kekacauan kerap disamarkan.
"Ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah bi-husnil khatimah"
......................................................................................................................................
"Suro diro joyoningrat lebur dening pangastuti" betapa tegas menjawab narasi yang berulang-ulang.
Suro = Keberanian.
Diro = Kekuatan.
Joyo = Kejayaan.
Ningrat = kekayaan, Kemewahan..
Lebur = Hancur, Musnah
Dening = Dengan
Pangastuti = Kebijaksanaan, Kasih Sayang, Kebaikan
Segala sifat picik, licik, kerdil dan keangkara murkaan hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. Kembali menundukkan panca indera, menggapai ketenangan hati untuk kembali mencari: Indonesia.
Istilah kekiniannya "galau", tentu, bagaimana tidak jika kerap kali mendapati penyimpangan yang terang-terangan dibela-diwajarkan. Cemburu? Memang, harus diakui itu. Tidak ada lagi yang dapat saya akui-saya rasai.
Ketimpangan-ketimpangan diharapkan ada-terdapat dan wajar, tentu untuk mempertahankan kemapanan kelas sosial. Kebenaran dan keadilan hanyalah pengganggu kemapanan. Tanpa daya perlawanan, sekedar penyaksian. Astaga.
Bagaimana mungkin kesadaran akan kenyataan sedemikian ini memaksa untuk bertahan dalam ketabahan? Dipaksa tunduk dalam ketertindasan, pengasingan. Sadar, perjuangan berujung pada kesia-siaan. Atau memang sedang "terhasut sepi?" Ini bukan tulisan yang serius, hanya menyempatkan diri mencatat sebentuk keadaan, dimana dan kapan aku kini berada, tentu dengan segenap penyaksian dan umpatan. Menyendiri tanpa pembelaan.
Sekali lagi "kemenangan bukan lagi milik yang benar, sebab keadilan adalah rekayasa kuasa" segala yang diwajarkan hanyalah upaya kekuasaan, penyimpangan dan penindasan jadi wajar hanya karena upaya kekuasaan.
Aku sedang berdiri, memandangi kenyataan yang berlangsung pada sebuah bangunan, institusi, tempat dimana kekacauan kerap disamarkan.
"Ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah bi-husnil khatimah"
......................................................................................................................................
"Suro diro joyoningrat lebur dening pangastuti" betapa tegas menjawab narasi yang berulang-ulang.
Suro = Keberanian.
Diro = Kekuatan.
Joyo = Kejayaan.
Ningrat = kekayaan, Kemewahan..
Lebur = Hancur, Musnah
Dening = Dengan
Pangastuti = Kebijaksanaan, Kasih Sayang, Kebaikan
Segala sifat picik, licik, kerdil dan keangkara murkaan hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. Kembali menundukkan panca indera, menggapai ketenangan hati untuk kembali mencari: Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)