Pramoedya Ananta Toer

"kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu"

Minggu, 24 Februari 2013

Realitas politik nusantara

Kemarin cepat-cepat pulang soalnya mau nonton pidatonya Pak Anas Urbaningrum setelah dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK. Sambil tiduran saya ndengerin dari awal sampai akhir, juga dengan pemberitaan setelah-setelahnya. Entah bagaimanapun tanggapan orang tentang hal ini, saya menanggapi dengan sudut pandang saya sendiri bahwa orang politik bicaranya selalu saja "multi tafsir".

Bukan hanya cara bicara orang politik yang "multi tafsir" dengan pemilihan kata-kata yang terkadang mengancam, mendukung dan menolak yang sepertinya ketiga hal tersebut dapat pula ada-bersamaan dalam satu pernyataan, juga dengan sikap dan tingkah lakunya, seperti ketika Pak Peni Suparto "menyeberang" ke partai yang menurut saya sebelumnya adalah seteru dari partai yang ia naungi, dalam kesempatan itu~waktu melamar ke partai tersebut ia masih mengenakan kemeja merah partai sebelumnya. Sebagaimana yang diketahui sebelum melamar ke partai tersebut Pak Peni dipecat dari keanggotaan partainya.

Atau ketika tiba-tiba saja para pengusaha turut bersaing dalam dunia politik yang pada akhirnya dari sudut pandang saya partai politik lebih mirip entertain club sepak bola, dimana pelatih, pemain hingga manajernya dapat saling berpindah tergantung besarnya modal dan kenekatannya. Tidak begitu dimengerti, apakah tindakan-tindakan ini merupakan upaya cari selamat atau cari keuntungan atau keduanya, mengingat beberapa pengusaha juga ada yang bermasalah.

Kembali pada pernyataan Pak Anas, sebenarnya ada beberapa hal yang menarik dalam pernyataannya kemarin, sebelumnya saya pikir beliau tidak akan menepati janji, tapi kemarin Pak Anas dengan pernyataannya telah menepatinya, entah karena apa, disini saya hanya dapat mengikuti dari media massa sembari menebak-nebak.

Berikut penggalan-penggalan pernyataan Pak Anas yang menurut saya cukup menarik:

"Sejak awal saya punya keyakinan penuh tentang tuduhan-tuduhan yang tak berdasar itu. Saya meyakini kebenaran dan keadilan pangkatnya lebih tinggi dari fitnah dan rekayasa. Kebenaran dan keadilan akan muncul-menang dari rekayasa sehebat dan serapi rekayasa itu dibangun. Itu keyakinan saya."
..............................
..........................................
"Apalagi saya tahu petinggi partai Demokrat yakin betul, haqul yaqin, Anas jadi tersangka. Rangkaian ini pasti tidak bisa dipisahkan dengan apa yang dikatakan bocornya sprindik. Ini satu rangkaian pristiwa yang utuh tak bisa dipisahkan, terkait sangat erat. Itulah faktanya. Tidak butuh pencermatan yang terlalu canggih untuk mengetahuinya.

Kalau mau ditarik agak jauh ke belakang, sesungguhnya ini pasti terkait dengan kongres Partai Demokrat. Saya tidak ingin cerita lebih panjang, pada waktunya saya akan cerita. Intinya Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan. Tentu rangkaiannya menjadi panjang. Itu saya alami menjadi peristiwa politik dan organisasi Partai Demokrat. Pada titik ini saya belum sampaikan secara rinci, tetap ada kontek yang jelas menyangkut rangkaian peristiwa-peristiwa politik itu."
..............................
..........................................

"Saya juga berharap, siapapun yang nanti jadi Ketua Umum Demokrat, bisa menunaikan tugas, bahkan jauh lebih baik dengan apa yang saya tunaikan bersama teman-teman pengurus selama ini. Pasti akan datang ketum yang lebih baik. Saya percaya karena sejarah selalu melahirkan pemimpin pada waktunya.

Apa yang akan saya lakukan ke depan adalah tetap dalam rangka memberi kontribusi dan menjaga momentum bagi perbaikan dan peningkatan kualitas demokrasi di Indonesia, apapun kondisi dan keadaan saya. Yang penting adalah saya akan tetap bersama-sama dalam sebuah ikhtiar untuk membuat Indonesia semakin bagus.

Di hari-hari ke depan akan diuji pula etika Partai Demokrat. Etikanya yang bersih cerdas dan santun. Akan diuji oleh sejarah apakah bersih atau tidak, bersih atau korup. Akan diuji partai yang cerdas memberi gagasan bangsa. Apakah Demokrat ini santun atau sadis, politik santun atau sadisme politik.

Yang paling penting, tidak ada kemarahan dan kebencian. Keduanya jauh dari rumus politik yang saya anut. Mudah-mudahan dianut juga oleh kader-kader Partai Demokrat.

Ada yang berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Hari ini saya nyatakan, ini baru permulaan. Ini baru sebuah awal langkah-langkah besar. Ini baru halaman pertama. Masih banyak hal lainnya yang kita buka bersama untuk kebaikan bersama."

......................................................................


Kembali lagi, bagaimanapun pandangan dan pendapat orang tentang pernyataan Pak Anas ini adalah sah, begitupun dari sudut pandang saya yang sementara ini memunculkan garis-garis peta untuk menebak segala yang sedang berlangsung dan segala yang akan terjadi nantinya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Pak Anas tentang sadisme politik, saya yakin, haqul yaqin, hal ini akan menjadi tema penting Indonesia kedepan. Dari pengertiannya, sadisme adalah kondisi yang dialami seseorang, secara sederhana adalah kondisi yang menyenangkan dari seseorang mendapati penderitaan orang lain. Inilah yang menurut saya kini lebih menarik daripada yang lainnya. Sadisme politik.

Politik, berbicara mengenai kepentingan, kekuasaan dan peluang secara bersamaan, dalam sosiologi politik dibicarakan tentang bagaimana menyerap dan mengorganisasikan kepentingan-kepentingan tersebut untuk kemudian diarahkan kepada peluang-peluang yang ada. Lalu dengan sadisme politik, berarti menyangkut kondisi kejiwaan seseorang, bisa jadi pengorganisasian dan upaya-upaya meraih peluang tersebut adalah sekedar kepuasan orang-seorang dan penderitaan bagi banyak orang. Bisa jadi seperti itu, atau sekedar tentang hedonisme seseorang, dan yang patut diingat adalah pola politik semacam ini tidak hanya ada terdapat pada gelanggang politik nasional tapi lebih kebawah ke dalam organisasi-organisasi dalam masyarakat juga terdapat yang demikian itu, sadisme politik.

Tapi mau bagaimanapun semua itu juga tergantung dari latar belakangnya, sadisme politik bisa saja muncul karena adanya 'status quo' dengan orang-orang yang merasa nyaman didalamnya, atau bisa juga karena adanya upaya untuk menutup-nutupi kecurangan atau sekedar kesalahan yang pernah atau sedang terjadi, mengingat juga terdapat peran "kresna dan Sengkuni" dalam tiap laga politik tanah pertiwi. Atau memang inilah kenyataan dibalik wajah kesantunan bangsa ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar