Pramoedya Ananta Toer

"kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu"

Kamis, 17 Januari 2013

Hormat, kehormatan atau kemanusiaan?

Ini tadi. Hari yang aneh, mendapati hal-hal yang diluar dugaan dan ternyata kalau dipikir ada juga saling keterkaitan satu sama lain. Tidak mungkin saya tulis di blog ini, nanti malah jadi masalah pencemaran nama baik yang pada dasarnya nama-nama yang ada tidak pernah terlihat baik oleh umum. Saya tulis pokoknya saja, yaitu tentang kehormatan, selebihnya bisa dibaca dibuku harian tapi nanti saja kalau saya sudah mati.

Tiap-tiap manusia punya keinginan dan wewenang, seperti selalu ingin dihormati oleh orang lain bahkan terkadang kita bisa menjumpai apa yang disebut-sebut dengan "gila hormat". Katanya Kyai Anwar Zahid "kalau ingin dihormati orang itu sangat mudah, bawa saja bendera kemanapun anda pergi, pasti setiap orang yang jumpa akan hormat".

Istilah hormat sepertinya lebih tepat digunakan untuk membela kemanusiaan, atau hak serta wewenang tiap orang yang merasa ditindas, dan penindasan bisa terjadi dengan berbagai sebab, pun dengan berbagai bentuk. Yang pasti adalah akan ada pembelaan atas penindasan.

Mengapa kita selalu ingin dihormati? Mengapa kita harus menghormati orang lain? Bukankah sebenarnya cukup hanya mengakui kemanusiaan atau istilahnya "memanusiakan manusia" kita bisa menciptakan kenyamanan bagi diri kita dan orang lain?.

Tentu tidak cukup bagi kita ketika kita mengupayakan ketertundukkan dan penaklukkan, dan memang sudah tabiatnya manusia untuk berkuasa atas manusia yang lain, dengan cara apapun bertahan agar senantiasa dihormati oleh orang lain meskipun dengan cara-cara yang tidak terhormat. Dengan kata lain, dalam kita mengupayakan dan memperjuangkan posisi kita untuk selalu terhormat senantiasa terdapat juga kesempatan yang pada dasarnya membuat kita menjadi tidak terhormat.

Cukuplah kita membatasi diri pada kemanusiaan, penghargaan atas kemanusiaan pada dasarnya akan menempatkan orang pada posisi terhormat sebagai manusia, tidak perlu ada keinginan untuk disegani apalagi ditakuti oleh yang lain, sebab hal demikian malah menempatkan kita pada posisi yang tidak terhormat. Bayangkan ketika tiap-tiap orang yang kita temui takut pada kita, apa dengan demikian kita masih termasuk manusia? Bukan, sama sekali bukan.

Hal tersebut juga telah dipesankan dalam pancasila sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Awalnya dan yang terutama adalah menyadari kemanusiaan, mengenal manusia, siapa manusia? Tentunya makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia tidak hanya mengenai kehebatannya, tapi juga tentang kelemahannya. Manusia itu hebat karena manusia bisa berfikir, jadi tidak sekedar mengikuti insting tapi lebih didasarkan pada pertimbangan, etika dan estetikanya. Baik- buruk dan juga benar-salahnya yang sekaligus juga efek dari setiap tindakan. Dipikir.

Sedang kelemahan manusia itu pada dasarnya lebih banyak sama seperti kelemahan yang dimiliki oleh makhluk yang lain, yaitu hewan, saya bikin perbandingan antara manusia dengan hewan sebab makhluk lain diluar dua makhluk tersebut tidak saya kenali alias "nggak paham".

Kelemahan tersebut misalnya saja manusia itu masih bisa lapar, sakit ataupun mengantuk, maka upaya yang dapat dilakukan adalah mengatasi kelemahan tersebut. Kalau lapar ya makan, kalau mengantuk ya tidur. Dan tidak cukup seperti itu, tidak mungkin seorang manusia ketika merasa mengantuk langsung tidur sebagaimana seekor kucing, ngantuk dan terus tidur habis perkara, tidak. Kucingpun pada dasarnya masih memilih-milih lokasi tidur yang aman dan nyaman. Manusia masih harus berfikir untuk hal tersebut, sebab sangat aneh jika kita tertidur didepan pintu sebagaimana seekor kucing.

Demikianlah kita sebagai manusia sedapat mungkin untuk mampu mengenal kemanusiaan, setelah mengenal segala kesempurnaan manusia yang ada pada kita sebagai manusia, maka ada baiknya untuk memahami manusia yang lain, memanusiakan manusia. Jika kita merasa sakit ketika dipukul ya jangan memukul, jika kita merasa sakit "hati" ketika dihina yang jangan menghina. Adil untuk mencapai manusia yang beradab.

Kemanusiaan itu tidak berlebihan dan berkekurangan, sebagaimana pandangan Friedrich Nietzsche dalam Zarathustra, "jikasatu tujuan bagi kemanusiaan masih kurang, tidaklah yang kurang itu-kemanusiaan itu sendiri?"

Lewat tulisan ini saya tidak hanya merefleksikan tiap-tiap kejadian, tapi saya gunakan juga kesempatan ini untuk berpesan, tentang posisi saya dan kesadaran saya saat ini.

nb.

aku
sedang dalam merendahkan diri
seperti sebelumnya
tak lagi merendahkan hati
sekedar untuk mendidik kesombongan
dan berdialog tentang kemanusiaan

kerendah hatian
kini, hanya akan tumbuhkan kecongkakan
maka
kuasailah dan perlakukanlah sesuka hati
aku
sedang dalam merendahkan diri
itupun juga untuk kehormatanmu
kesadaran-kemanusiaanmu

maka
suatu saat nanti
aku berharap:
kau mampu memanusiakan aku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar