Pramoedya Ananta Toer

"kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu"

Minggu, 27 Januari 2013

Multi partai, nasib dan kepentingan rakyat

Orang kembar itu unik, dikatakan serupa tapi tak sama, bahkan yang identik seringnya hampir menipu mata. Saya tidak begitu mengerti tentang kejadian orang bisa jadi kembar, biarlah yang ahli yang menjelaskan hal tersebut. Keunikan ini juga ada digambarkan lewat tokoh wayang, Nakula-Sadewa, dua dari Pandawa lima.

Mungkin semua itu adalah fenomena, entah, mungkin juga sama seperti fenomena partai politik, hanya saja partai politik dengan jumlah yang begitu luar biasa bukan "serupa tapi tak sama", sebaliknya kebanyakan dari partai yang ada adalah "sama tapi tak serupa", tak sama nama, warna atau lambangnya saja, selebihnya mirip sama sekali. Bahkan ada tiga parpol yang menurut saya tipikalnya sama.

Jumlah yang ada dan sah menjadi peserta pemilu adalah sepuluh~saya rasa ini masih kebanyakan, seharusnya cukup lima parpol saja sudah cukup. Ini hanya penilaian saya saja, dari sudut pandang saya sebagai salah seorang rakyat yang seringnya dikhianati.

Menilik kembali fungsi partai politik untuk menampung aspirasi masyarakat yang berwarna-warni, melalui proses selektif suara rakyat yang bercampur-baur itu akan baku dalam partai politik, sesuai kepentingan. Jadi bingung kalau faktanya adalah suara rakyat yang beragam tersebut mendapati "sajian" parpol-parpol yang hanya beda nama, warna dan lambang tapi tipikal orangnya sama semua. Atau mungkin semua ini adalah pesebaran kader golongan tertentu yang berada di balik parpol-parpol tersebut? Entah, dan jika hal ini benar maka demokrasi di negeri ini adalah hal yang percuma, sebab mau diotak-atik seperti apapun pada dasarnya yang menang adalah golongan tersebut.

Saya jadi ingat waktu masih kuliah dulu, beberapa teman mahasiswa memang ada yang sengaja menjalankan politik praksis, sebagian yang lain tanpa sengaja yaitu tunduk akibat aksi "ideologis" kawan yang lain, dan bagian terbesarnya adalah cari selamat dengan bersikap netral tapi memihak, pragmatis.

Kekuasaan dan kedudukan adalah hal utama dan penting waktu itu, termasuk menduduki jabatan ketua "offring", demikian masing-masing pihak berupaya mendominasi, pada waktu itu kondisi politik nasional juga teramat gaduh. Dari angkatan saya di jurusan PPKn terbagi dalam empat faksi, saya sendiri lebih dekat dengan "faksi merah" (saya tidak akan menyebut organisasinya, khawatir nantinya akan bermasalah, sebab saya tidak masuk dalam organisasi-organisasi tersebut, hanya sekedar dekat saja) berhadapan langsung dengan organisasi paling dominan waktu itu. Tidak hanya perang wacana, pertarungan fisik pun juga terjadi. Kekerasan dalam segala hal dan dalam segala cara.

Yang menarik adalah intrik yang dilakukan oleh organisasi yang dominan waktu itu, selain melakukan "show of force" lewat demonstrasi-demonstrasi juga penyusupan dan pemecahan suara lewat wacana. Saya hanya "geleng-geleng" kepala.

Pernah dalam suatu pemilihan ketua HMJ yang dilaksanakan dengan tata cara debat terbuka setelah penyebaran brosur dan sebelum pemilihan berlangsung, teman-teman dari organisasi dominan ini mempraktekkan "trik" pemecahan suara. Ada sekitar lima orang anggotanya yang paling vokal waktu itu disebar, tidak bergerombol, tapi berpencar dalam satu ruang.

Giliran kandidat yang muncul dengan mengusung bendera seterunya langsung saja kelima orang ini mengepung dengan pertanyaan-pertanyaan. Padahal jumlah mereka sedikit, tapi seperti tersihir orang-orang dalam ruangan tersebut merasa pertanyaan-pertanyaan dari kelima orang tersebut adalah suara penentang yang dominan. Hal ini selain kandidat yang sedang dicerca pertanyaan dari awal sudah kalah kharismanya, pun hanya dua orang dari jurusan saya yang menjadi kader "faksi merah" ini, saya dekat dengan kelompok ini hanyalah karena merasa punya sudut pandang yang sama, dan sebenarnya saya malah sedang berada lebih "kiri" dari mereka.

Dan sebenarnya juga saya sudah mengetahui perilaku orang-orang ini diluar kegiatan politik praksisnya, minum kopi bersama tanpa diketahui oleh yang lain. Payah.

Tulisan ini hanya sekedar cerita dari ingatan dan sudut pandang saya tanpa ada upaya untuk menyerang salah satu pihak yang termuat dalam tulisan ini, toh sedari awal saya sudah sadar bahwa mereka pada waktu itu sedang dibingungkan oleh konsepsi ideologi yang datang dari luar diri mereka, meskipun sudah cukup jelas, pada waktu itu mereka ada di jurusan pancasila. Tapi mereka bingung.

Saya yakin, kini teman-teman saya itu yang berkesempatan jadi guru pasti sedang mati-matian membela jurusannya untuk juga membela kepentingan pribadi mereka sendiri. Apapun warna bendera mereka waktu itu, mereka adalah kaum liberal, kini (mungkin) sama-sama pragmatis.

Partai politik adalah sangat penting bagi berlangsungnya demokrasi, diluar demokrasi hanya sistem dengan partai tunggal, bahkan hampir tidak terdapat suatu negara tanpa partai, dan dalam penerapan demokrasi dengan multi partai semacam negeri ini hanya akan menjadi pemborosan, pemborosan dalam segala hal. Mungkin untuk menghindari terjadinya mayoritas suara, tapi apalah artinya jika malah terjebak dalam masyarakat kelas dengan dominannya kepentingan kelas dalam masyarakat?.

Memang demokrasi bukanlah konsep baku, kita harus menyempurnakan demokrasi ini, dan tidak salah rasanya untuk selalu belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Saya hanya sekedar khawatir kalau-kalau yang sedang berlangsung saat ini adalah sama halnya dengan pengalaman yang saya dapati ketika masih kuliah dulu. Jika benar, maka suara rakyat hanya sekedar objek perjudian, dan semoga saja tidak benar, semoga saja hanya sekedar kekhawatiran yang tidak mendasar dari kalangan jelata yang terlalu sering dikhianati ini. Semoga.


A tribute to Dion, Eko, Andik, Dian dan Anam, mungkin kita tidak akan pernah mampu untuk terlepas dari kemungkinan-kemungkinan seperti yang pernah kita saksikan bersama, mungkin kita akan sadar nantinya bahwa bodoh dan ketidak tahuan adalah nikmat bagi mereka yang hidup di negeri ini. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar